Warta‎ > ‎

Profil Tokoh



Femilia Ekarista, Ibu Penggiat Lingkungan

diposting pada tanggal 18 Okt 2013 09.15 oleh Shinta Ratna Dewi   [ diperbarui18 Okt 2013 09.17 ]

Femilia Ekarista
Femilia Ekarista
, Seorang ibu rumah tangga sekaligus dosen pendidik yang tak kenal lelah untuk belajar ini mengaku jatuh cinta pada tanaman. Setiap hari tak lupa ibu dari tiga anak laki laki ini menyapa dan memberikan salam pada tanaman-tanaman di kebunnya.
   
"Doakan dan berikan salam padanya, Insya Allah mereka pun menjawab salam kita" tuturnya lembut.
   
Ditengah teriknya Kota Bandung, dengan polusi yang kian menggunung, CAD Kota Bandung untuk Dapil 6 kelahiran 28 Maret 1977 ini menggalakkan penanaman sansiviera, dan penanaman Tanaman Obat Keluarga. Sosok pecinta lingkungan yang ceria, percaya diri dan menyenangkan dimata keluarga, lingkungan, dan mahasiswanya sebagai seorang yang mampu menjadi teladan dalam keluarga maupun masyarakat.

Ide-idenya yang solutif dan kiprahnya sebagai Ketua Bidpuan Dapil 6 Kota Bandung sudah tidak diragukan lagi. Selain aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, ia sangat memprioritaskan keluarga. Utamanya dalam mendidik dan merawat keluarganya untuk mengikuti pola hidup sehat, dan menghindari zat kimia.
   
"Shutdown Zat Kimia, Stand up with TOGA. Sehat dan cantik itu berawal dari Alam. Allah menciptakan miliaran mahkluknya, tak terkecuali semua untuk kenikmatan manusia. Maka Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan?" tambahnya.
   
Contoh nyata ide solutif yang ia realisasikan dan dikemas cantik dengan bisnis rumah tangga yang ia jalankan adalah Femilia Florist Online - penyedia berbagai tanaman hias, sayur, buah dan perlengkapan berkebun yang membantu warga sekitar supaya dengan mudah mendapatkan tanaman sehat yang terbebas dari zat kimia. Satu lagi bisnis UKM lainnya yang ia tekuni bersama ketiga adik adiknya adalah Maharani Lulur.
   
"Indonesia yang cantik dan kaya akan sumber daya alam harus kita percantik dengan alami, Allah itu Maha Baik" ucapnya.
   
Kegiatan cinta lingkungan ini nantinya akan berkembang panjang, Bank Sampah adalah salah satu tindak lanjut  nantinya. Banyak ibu-ibu yang tergerak dan banyak yang terinspirasi dari Teh Femi ini. Istri dari Ubed Ubaidillah ini mengaku bisnis rumah tangga ini sangat sehat. "Keluarga sehat, Keuangan Sehat, Kota Bandung pun ikut Sehat." Intinya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai saat ini.
   
"Belajarlah dari hal hal di sekeliling kita. Coba ambil manfaatnya, dan temukan inspirasinya. Salam Sehat!".



Runingsih, Ketua Bidpuan PKS Kota Bandung

diposting pada tanggal 5 Okt 2013 02.33 oleh Shinta Ratna Dewi   [ diperbarui27 Okt 2013 08.39 ]

"Dengan semangat membangun Bandung baRU, berawal dari hati yang beNING dengan niat yang berSIH  menuju RIDO Allah, kita wujudkan BANDUNG JUARA"

Runingsih, ketua bidang perempuan PKS Kota Bandung
RUNINGSIH(4), perempuan bersahaja ini biasa disapa Teh Eno atau Ummi Uswah, lahir tanggal 4 Maret 1970, merupakan anak ke-5 dari pasangan suami istri Bapak Eli Sadeli dan Ibu Kusnah.

RUNINGSIH(4) kecil yang dibesarkan dari keluarga sederhana dan biasa bergaul dengan masyarakat, sehingga lebih banyak menyerap aspirasi, keinginan dan uneg-uneg mereka. Dengan kondisi tersebut, mulai muncul keinginan menampung, menyampaikan, dan memberi solusi terhadap permasalahan- permasalahan tersebut. Ternyata  keinginan seperti itu tidak tercapai optimal, jika dilakukan dengan sendirian, sehingga RUNINGSIH(4) berani dicalonkan menjadi Calon Anggota DPRD (CAD) Kota Bandung untuk periode 2014-2019 dari Partai Dakwah PKS.

RUNINGSIH(4) menyelesaikan pendidikan SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi di Kota Bandung. Enam tahun bersekolah di SDN Pasirlayung, sampai dengan saat ini pun masih menjalin hubungan baik dengan para guru. Tiga tahun mengenyam pendidikan di SMPN 16 Bandung. Tiga tahun kemudian menyelesaikan pendidikan di SMAN 10 Bandung. Setelah itu, diterima masuk Fakultas MIPA Jurusan Biologi UNPAD Bandung. Tertarik dengan dunia Pendidikan, alhamdulillah RUNINGSIH(4) berhasil menyelesaikan Sarjana Pendidikan di STAI SABILI Bandung.

Menikah dengan Rachmat tahun 1991 dengan semangat membentuk keluarga Sakinah Mawaddah Rahmah dan Dakwah, Alhamdulillah sampai saat ini RUNINGSIH(4) sudah dikaruniai 6 orang anak, terdiri 4 putri dan 2 putra.

RUNINGSIH(4) aktif sebagai kader PKS, sejak awal Partai Keadilan berdiri tahun 1998. Sejak itu, beliau terlibat langsung dalam proses pengkaderan dan pembinaan anggota-anggota PK. Kegiatan ini masih dan akan tetap RUNINGSIH(4) jalani untuk merekrut dan  membina kader baRU berhati beNING dan punya niat berSIH membangun Kota Bandung Juara.

Saat ini, RUNINGSIH(4) mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Perempuan DPD PKS Kota Bandung, dengan tugas utama menjadikan Keluarga-keluarga Kota Bandung menjadi keluarga tangguh baik dari sisi spiritual, moral, dan finansial. Suatu tugas yang tidak mudah dan menantang. Untuk itu, program yang diretas Bidang Perempuan Kota Bandung saat ini adalah dengan membuat suatu wadah ”RUMAH KELUARGA INDONESIA” dan “POS EKONOMI KELUARGA”

Aktivitas lain yang dijalani RUNINGSIH(4) sehari- hari setelah mengurus keluarganya ialah aktif sebagai Pengisi Majelis Taklim, Pengajar Tahsin Al-Qur’an, pengajian Orang Tua murid, Pengisi kajian-kajian dakwah mahasiswa dan tugas dakwah lainnya.

Seiring mendukung Program Bandung Juara, RUNINGSIH(4) dan relawan sedang merintis pembentukan unit-unit Bank Sampah yang akan disebar di 151 Kelurahan di Kota Bandung, dengan harapan Kota Bandung terbebas masalah sampah akan segera terwujud. Untuk itu, dengan meminta lindungan Allah SWT, RUNINGSIH(4) memohon do’a serta dukungan masyarakat Kota Bandung, khususnya Daerah Pemilihan 2 (Cidadap, Coblong, Cibeunying Kaler, Cibeunying Kidul, Bandung Wetan dan Sumur Bandung) pada waktunya nanti, 9 April 2014.


Ridwan Kamil, Walikota Bandung Usungan PKS

diposting pada tanggal 16 Mar 2013 08.50 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui 5 Okt 2013 02.26 oleh Shinta Ratna Dewi ]

Ridwan Kamil
Kang Emil
, sapaan akrab Ridwan Kamil telah dikenal sebagai arsitek dengan karya mendunia. Karya arsitekturnya telah tersebar di berbagai negara. Kang Emil lahir di Bandung ada tanggal 4 Oktober 1971, beliau adalah anak kedua dari lima bersaudara. Suami dari Atalia Praratya ini sekarang berkiprah bersama Urbane (Urban Evolution) sebagai perusahaan komersial jasa konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain. Selain itu, ia juga berprofesi sebagai dosen Arsitektur ITB serta memimpin Bandung Creative City Forum.

Sukses dengan karya dan profesi yang dijalaninya sekarang, ternyata Kang Emil menyimpan pengalaman jatuh-bangun semasa hidupnya. Saat menjalani studi S2 di Amerika Serikat dari beasiswa yang ia dapatkan, Kang Emil pernah merasakan makan sehari sekali dengan menu murahan seharga 99 sen. Untuk bertahan hidup pun, Kang Emil bekerja paruh waktu di dinas Tata Kota Berkeley. Tak sampai disitu, saat istrinya akan melahirkan anak pertama, Bapak dua anak ini tak mempunyai cukup uang, hingga akhirnya ia mengaku miskin pada pemerintah kota setempat agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di rumah sakit khusus orang miskin.

Pengalaman itu takkan pernah Kang Emil lupakan. Justru motivasi muncul hingga ia pulang ke Indonesia dan mendirikan Urbane tahun 2004. Urbane punya target setelah tahun ke-4, yakni fokus membangun masyarakat miskin kota. Filosofi Kang Emil adalah hidup adalah untuk memberi. Dan ia punya keinginan tertinggi bahwa ia dapat meninggalkan inspirasi, ide, dan cerita yang bisa dilanjutkan oleh orang lain.

Saat ini Kang Emil mengemban amanah sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018, didampingi wakilnya Mang Oded.


Muhammad Anis Matta, Presiden PKS ke-5

diposting pada tanggal 2 Feb 2013 17.44 oleh Humas PKS Coblong

“Pahlawan Muda… di tangan merekalah, Indonesia akan mengambil gilirannya, bukan hanya dalam mensejahterakan negerinya, tapi juga dalam memimpin dunia yang mulai terseok-seok!”

Presiden PKS ke-5 Anis Matta
Anis Matta
, Pria yang sekarang menjabat sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini lahir tanggal 7 Desember 1968. Sebelum menjabat sebagai presiden PKS, beliau berturut-turut menjadi Sekretaris Jenderal PKS sejak partai ini berdiri. Jabatan beliau terakhir di panggung nasional ialah sebagai Wakil Ketau DPR RI periode 2009-2014, sebelum beliau mengundurkan diri sebab terpilih mengemban amanah per 1 Februari 2013 sebagai Presiden PKS.

Politisi muda ini terkenal sebagai kutu buku. Selain itu beliau juga aktif menulis di berbagai media islam dan sudah menghasilkan sejumlah buku. Kecintaannya terhadap buku lahir sebagai hobi yang dilakoninya sejak kecil. Di masa kecil saat musim liburan sekolah, pria kelahiran Bone lebih suka menghabiskan waktunya dari pagi hingga malan dengan membaca dibandingkan anak seusianya yang lebih suka asyik bermain. 

Saat menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI, beliau pernah mengusulkan adanya sumber daya infrastruktur yang kuat untuk mendukung percepatan pembangunan. Bahkan beliau mengusulkan salah satu insfrastruktur itu berupa perpustakaan semacam perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Impian perpustakaan terbesar ini sangat bermanfaat bagi anggota DPR, sebab tidak perlu lagi melakukan banyak studi ke luar negeri sehingga bisa menghemat pengeluaran negara.

Setelah terpilih mengemban amanah sebagai Presiden PKS, Anis Matta mengagendakan tiga hal utama. Ketiga agenda utama tersebut ialah permohonan pertolongan kepada Allah SWT lewat taubat nasional, mempererat ukhuwah dan soliditas persaudaraan, yang terakhir menjauhkan lambung dari tempat tidur, mengajak seluruh elemen kader untuk kerja keras!

Sumber: merdeka.com

Mang Oded, Wakil Walikota Bandung 2013 - 2018

diposting pada tanggal 18 Sep 2012 03.35 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui 5 Okt 2013 02.23 oleh Shinta Ratna Dewi ]

Oded Muhammad Danial, calon Walikota Bandung 2013-2018
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.”

Kutipan sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi motivasi dalam keseharian Ust. Oded Muhamad Danial atau lebih dikenal dengan sebutan Mang Oded. Sebagai salah satu pejabat publik sekaligus ustadz, mang Oded dikenal sebagai tokoh yang sederhana, santun, ramah, arif dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Mang Oded lahir pada tanggal 15 Oktober 1962 di Kota Santri Tasikmalaya. Suami dari Siti Muntamah ini diamanahi sebagai Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Bandung sekaligus sebagai Ketua DPD PKS Kota Bandung.

Mang Oded dibesarkan di lingkungan pedesaan dengan kondisi penuh kesederhanaan. Semenjak di bangku sekolah menengah pertama, Mang Oded sudah terjun ke dalam dunia dakwah. Berceramah dari satu kampung ke kampung lainnya serta aktif di Pelajar Islam Indonesia. Pengabdian di jalur dakwah dirasakan Mang Oded sebagai saluran yang paling tepat untuk idealisme hidupnya.

Keberhasilan menjadi pemimpin dalam keluarga pada hakikatnya adalah kunci pembuka keberhasilan Mang Oded dalam melaksanakan amanah yang diembannya. “Rumahku Syurgaku” menjadi filosofi ketahanan keluarga. Dari situ muncul sosok pejabat publik yang nyunda, nyantri dan nyantika, bunda yang mengayomi seluruh elemen masyarakat Kota Bandung dan menghasilkan anak-anak yang cerdas dan prestatif sebagai generasi penerus harapan bangsa.

Dengan semangat pelayanan, Mang Oded terus menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan seluruh stakeholder di Kota Bandung. Baik dari kalangan legislatif, eksekutif, ormas maupun organisasi kepemudaan untuk menghadirkan Kota Bandung yang lebih baik.

Bahkan dalam perjalanan pengabdiannya, Mang Oded pernah menjabat sebagai Ketua RW 01 Kelurahan Sukaraja Kecamatan Cicendo Kota Bandung. Dalam pandangan Mang Oded, RW adalah ujung tombak bagi pembangunan masyarakat di lapisan paling bawah, apabila RW yang ada di Kota Bandung berdaya guna secara maksimal maka kemajuan Kota Bandung akan bisa terwujud.

Selain menjabat sebagai Anggota DPRD, Mang Oded juga sebagai Pembina Majelis Taklim Al Ukhuwwah serta Pembina Persaudaraan Seniman Bandung. Semua kesibukannya itu, tidak lain sebagai implementasi dari filosofi Mang Oded dalam menjalani kehidupan, Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. 

Saat ini, Mang Oded mengemban amanah sebagai Wakil Walikota Bandung periode 2013-2018, mendampingi Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung.


Sumber: Tim Sukses Oded Muhammad Danial

Ahmad Heryawan, Pemimpin yang Tak Tersandera

diposting pada tanggal 2 Mei 2012 00.01 oleh Haryo Indrasmoro

dakwatuna.com
– Lepas Subuh, awal 2008. Seorang laki-laki menuntun putranya menuju ibu-ibu yang berkerumun mengelilingi pedagang sayur. Ia menyampaikan salam sejenak, yang dijawab ibu-ibu itu, sebelum asyik memilah-milah sayuran dibantu putra lelakinya yang selalu minta pertimbangan sebelum memasukkan wortel, selada atau pun kentang untuk ditimbang.

Setelah menimbang dan membayar, barulah lelaki itu meraih tangan putranya dan menuntun, sementara tangan satunya menenteng kantong-kantong plastik sarat belanjaan. Lelaki yang tak rikuh menggantikan tugas istrinya bergabung dengan ibu-ibu berbelanja sayuran itu bernama Ahmad Heryawan. Kini kita mengenalnya sebagai gubernur Jawa Barat.

Sebagaimana saat itu, kini publik mengenalnya sebagai sosok yang tak canggung melakukan hal-hal wajar yang entah mengapa, kini mulai dipandang ‘tidak wajar’. Misalnya, yang gampang diingat publik, Heryawan dengan tegas mencoret anggaran pengadaan 18 mobil dewan dalam APBD 2011 Kabupaten Bandung.

Tak ragu-ragu akan kemungkinan tanggapan negatif anggota Dewan yang akan memengaruhi pencitraan terhadap dirinya, Heryawan melakukan hal itu dengan tegas dan yakin bahwa itulah yang terbaik bagi rakyat. Bagaimana tidak, saat itu APBD Kabupaten Bandung tercatat defisit.

Tetapi Heryawan pun tak hanya bisa tegas terhadap orang lain. Publik masih ingat betapa Heryawan dan wakilnya hingga saat ini memilih menggunakan mobil dinas lama yang dipakai gubernur sebelumnya, Dani Setiawan, yakni Toyota Royal Crown buatan 2007, satu kendaraan SUV dan sebuah jip.

Mungkin bisa terkesan berlebihan, tetapi apa yang dilakukan Heryawan dengan berbelanja sayuran sendiri akan gampang mengingatkan kaum muslimin akan Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur.

Ammar tak jarang berbelanja ke pasar dan mengikat serta memanggul sayuran belanjaan sendirian. Atau Khalifah Ummar bin Abdul Aziz, khalifah negara besar dan kaya, tetapi memilih hidup sederhana. Dan kita sadar, betapa sosok-sosok seperti itu kian lama semakin langka

Dari Ahmad Heryawan orang bisa kian membenarkan pernyataan seorang mahaguru manajemen, Peter Drucker. Drucker menyatakan, manakala kita melihat perusahaan-perusahaan besar yang maju dan unggul, jangan salah, ada keputusan-keputusan berani di belakangnya.

Artinya, bahkan Drucker yang rasional pun percaya, keberanianlah yang membawa manusia kepada kemaslahatan, kebaikan bersama. Kita bahkan pernah mendengar dari alm Rendra, keberanian adalah cakrawala. Kian berani seseorang, makin mampu ia melihat dunia secara holistik. Menilik apa yang telah dilakukan Heryawan selama hampir empat tahun kepemimpinannya di Jawa Barat, keberanian itu begitu nyata dan gamblang.

Lihat saja, manakala sadar bahwa Jabar kian lama kian panas akibat tanaman yang kian hilang dari kehidupan, Heryawan berani mengembangkan program penghijauan dalam skala besar. Ia pun mencanangkan Gerakan Jabar Hijau berbasis sekolah.

Alhasil dalam waktu yang cepat telah ditanam 11 juta batang pohon di 26 kabupaten/kota se-Jabar, hingga selama 2011 tercatat telah ditanam 170 juta batang pohon di Jabar. Wajar bila prestasi itu diganjar rekor oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

Tidak hanya itu. Dalam bidang kependudukan dan demografi Heryawan pun mencetak prestasi dengan menerima penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) berupa “Transmigrasi Award”.

Yang menarik, hanya dalam sebulan, Desember lalu Heryawan menerima empat anugerah dan penghargaan. Pertama saat Hari Nusantara, 13 Desember, di Dumai, Riau; kedua Satya Lencana Kebaktian Sosial di Jogjakarta pada Peringatan HKSN, 19 Desember; ketiga Parahita Ekapraya Pratama di Jakarta pada Peringatan Hari Ibu 22 Desember; lalu Transmigrasi Award, 27 Desember 2011. Jujur saja, tak banyak kepala daerah yang menerima empat penghargaan berkatagori nasional hanya dalam waktu sebulan.

Yang juga menarik dan masih hangat, manakala para pejabat beramai-ramai menyatakan kesiapan membeli mobil Esemka buatan para pelajar Kota Solo, Ahmad Heryawan dengan tegas menyatakan keengganan untuk latah. Ia menyatakan hanya berminat membeli mobil karya pelajar-pelajar Jabar. “Saya enggak mau beli dari Solo. Saya mau beli karya pelajar dari Jawa Barat,” kata dia.

Itulah Heryawan. Dengan pemimpin seperti itu, rakyat Jabar layak optimistis bahwa daerahnya akan mampu menjadi provinsi termaju di Indonesia. Dan tentu saja, untuk itu mereka juga dituntut berpartisipasi sesuai bidangnya. Rakyat jabar, layak bangga dipimpin seorang berani yang yakin akan cita-ciota bersama.

Tapi kita pun tahu, keberanian mensyaratkan banyak hal. Dan yang terutama, tampaknya, tidak adanya pamrih. Karena tanpa adanya pamrih, maka keberanian tak pernah tersandera. Semoga kita semua pada saatnya memiliki pemimpin seperti itu. Pemimpin yang hanya tersandera satu hal: kepentingan rakyatnya.

1-6 of 6